" Religion, Experience, Science, and Technology " (by : Dewi Nanti Ratumanik - Chemical Engineer )
SUPPORTER ‘MEMBIRUKAN’ JALANKU
Setelah beberapa hari berada di dunia lain, hari ini mau tidak mau, males gak males, harus pulang lagi ke dunia asal. Perjalanan rumah — kostan adalah perjalanan yang paling saya hindari karena perjalanan rumah — kostan adalah perjalanan menuju dunia lain. Lain halnya dengan perjalanan rumah — kostan, perjalanan kostan — rumah adalah perjalanan menuju hidup bahagia sejahtera tanpa dosen, textbook, dan organisasi.
Sejak kemarin saya sudah tahu bahwa hari ini tim sepakbola yang katanya bisa berubah wujud jadi ‘maung’ itu akan bertanding dengan lawan favoritnya . Entah dendam apa , perang seperti apa, atau perebutan apa, kedua tim sepakbola ini terkesan tidak dapat berdamai sejak zaman kakek nenek saya, hingga supporter kedua tim jika bertemu saling menyapa : “Halo musuh bebuyutanku”. Hal ini membuat kancah dunia permasyarakatan menjadi gempar. Dari pagi berita di TV telah menghimbau agar supporter yang ber-oranye ria sebaiknya tidak perlu hadir ke kandang sang maung karena dikhawatirkan akan terjadi syahrini, #eh, sesuatu yang tidak diinginkan.
Sehubungan dengan stadion-sementara si maung bandung ini terletak diantara perjalanan rumah saya menuju kostan, maka saya berpikir bahwa perjalanan saya menuju kostan akan tidak meng-‘enak’-an hari ini. Terbayang terakhir kali pertemuan manis saya dengan para supporter ketika saya akan pulang dari kostan menuju rumah. Saya berangkat dari kostan pukul 18.00. Perjalanan kostan — rumah yang biasanya paling lama memakan waktu sekitar 2 jam, hari itu dengan sangat terpaksa dan penuh caci maki, pukul 22.00 saya baru sampai rumah. Apa mau dikata, di tengah perjalanan motor saya tidak kebagian jalan, sehingga harus berhenti diantara lautan bebiruan dan menyaksikan hiburan malam dari bebiruan berupa nyanyian dan joget ajep-ajep sebagai bentuk perayaan ke-seri-an pertandingan tim kesayangannya. Tak ingin hal itu terjadi lagi, maka saya mempunyai ide untuk berangkat dari rumah saat kedua tim sedang bertanding, sehingga semua supporter telah masuk ke kandang menyaksikan pertandingan. Pasti jalanan akan sangat sepi, karena pengguna jalan yang lain pun akan duduk manis di depan televisi. “Hahahahaha.. brilliant”, pikir saya.
Namun ide yang yang brilliant tak selamanya brilliant jika tidak langsung diikuti dengan aksi. Pagi-pagi saya tidak langsung melihat pukul berapa pertandingannya dimulai karena saya pikir biasanya pertandingan dimulai pukul 3 atau 4 sore. Jadi saya pikir berangkat ke kostan pukul 4 saja. Yang terjadi..
Pukul 15.00 saya lihat jadwal pertandingan dan ternyata pertandingan dimulai pukul 18.00. Luar binasa… Ide saya sangat brilliant. Yah, apa mau dikata masa saya mau berangkat malam-malam naik motor. Berangkatlah saya pukul 16.00 dengan penuh kebiruan hati. Bukan apa-apa tanpa bermaksud mencari keributan hanya sekedar memaparkan curhatan, selain kemacetan, yang terbayang adalah kecelakaan, kekerasan, dan lain-lain. Sebab tak jarang supporter bebiruan ini dikabarkan berbuat kerusuhan, meresahkan warga, sempat juga saya melihat beberapa diantaranya melemparkan (maaf) air kencing kemana-mana, memukul-mukulkan bendera yang tiangnya dari bambu ke mobil atau pengendara motor.
Bismillah Gusti, sing lancar.
Sesuai dugaan, baru keluar dari pagar rumah, eh saya sudah bergabung bersama rombongan bebiruan yang akan menuju stadion. Okelah saya sudah persiapan dengan menggunakan jaket agak bebiruan, yah serupa tapi tak sama,agar tidak terlalu mencolok pikir saya. Tegang sih, dikit. Hehehe. Tapi ternyata alhamdulillah, sudah banyak polisi berjejer di beberapa titik sambil membawa potongan bambu yang entah buat apa. Buat mukulin nyamuk sama lalat mungkin.
Sesuai dugaan, begitu mendekati lampu merah yang sudah sangat dekat dengan stadion, bagaikan di sambut oleh pasukan kerajaan berkaos biru dan beratribut biru pula, saya berpapasan dengan rombongan. Ya macet lah yaaah.. secara mereka ngabisin jalan. Jalan kita ya di embat semua, beberapa bahkan menggoyang-goyangkan motornya biar nyenggol, mungkin pengen kenalan sama motor lain. Marilah seperti biasa mengalah, ambil jalur paling mepet kiri, perlahan tapi pasti. Mata pun harus selalu waspada kalau-kalau secara tiba-tiba barang-barang tak diundang melayang menuju saya. Mobil-mobil yang menuju arah kota bandung pun lantas harus merayap semerayap-merayapnya, sedangkan motor masih bisa nyelap nyelip lah sembari sesekali mengalah memberi jalan pada si bebiruan yang menyalakan klakson tiada henti bagaikan alarm di pagi hari yang tak bisa mati.
Walaupun di beberapa titik terjadi kemacetan, di beberapa titik jalan yang lain justru sangat sepi. Pedagang kaki lima yang suka stand-by dipinggir jalan dan para angkot sepaket dengan supirnya yang suka ikutan nongkrong di warung pun tak kelihatan. Entah karena pedagang dan sopir angkotnya ngumpet karena takut, atau jangan-jangan mereka juga supporter sehingga ikutan berangkat ke stadion, atau mungkin semuanya tiba-tiba terserang diare jadi pada ngantre di toilet umum. Yang jelas kondisi ini membuat perjalanan di beberapa titik jadi lancar car car car…
Apalagi ketika memasuki kota Bandung, si bebiruan mulai tidak kelihatan, sudah berangkat semua mungkin. Mobil dan motor pun yang biasanya pabalatak, tadi sore tak terlihat. Pada nongkrong depan TV mungkin yah, lalajo bareng. Alhamdulillah, terima kasih euy hei supporter, tidak biasanya jalan di kota yang biasanya pinuh wae jadi mendadak jarang penghuni. Ada bagusnya juga saya pikir. Hehe.
Yang membuat saya heran yah, di jalan,saat rombongan bebiruan lagi rame-ramenya lewat, trotoar, halaman rumah, halaman toko, dan halaman orang, penuuuuuh banget sama warga, terutama anak kecil. Banyak diantaranya bawa bendera biru, teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, tos-tosan sama supporter yang naik motor sok-sokan kenal, entah memang sodaranya. Pokoknya susasananya kaya pejabat lagi lewat sambil nyawer duit. Jangan salah, supporter bebiruan ini juga nyawer. Sayangnya bukan nyawer duit,tapi nyawer kertas koran yang sudah di gunting kecil (niat kali ya, sebelum berangkat gunting-gunting kertas dulu. Haha kreatip lah). Coba kalau sawer uang, saya pasti ikutan warga nongkrong pinggir jalan sambil ambil uang saweran. Warga, apalagi anak-anak itu, keliatannya bahagia sekali melihat rombongan yang lewat. Hiburan mungkin yah, maklum Indonesia sesak, pawai seperti itu saja sudah jadi hiburan. Syukurlah.. tak hanya membuat resah saja, mereka juga bisa membuat warga dan anak kecil bahagia walaupun saya tidak mengerti dimana letak bahagiannya.
Nah kali ini yang membuat saya salut nih dari supporter bebiruan ini, mereka itu kompak sekali. Entah janjian mungkin yah di pesbuk, twitter, atau BBM-an, mereka berangkatnya bisa barengan begitu, gak ngaret lagi. Malah mereka datang jauh lebih awal sebelum pertandingan dimulai. Mereka juga sering tuh saling menyapa di sepanjang jalan dengan semua orang yang berbaju biru. Entah kenalan, entah saudaranya, entah temannya, entah pacarnya, entah emaknya, pokoknya nyapa sambil angkat kedua jempol, mau perempuan ataupun laki-laki, pokok’e kaya udah kenal lama. Bahkan beberapa diantara mereka secara sukarela ada yang sengaja berhenti dulu, turun dari kendaraannya, dan menyetop kendaraan lain, mengatur jalan agar rombongan (yang mungkin bahkan dia tidak dikenal semua yang penting berbaju biru) dapat lewat dengan nyaman dan cepat. Luar biasa… Solid sekali bukan?
Positif atau negatifkah si biru ini? Tergantung Anda memandangnya mungkin yah. Yang jelas, walaupun tadi perjalanan saya cukup menegangkan, saya juga berterima kasih karena telah membuat jalanan di kota menjadi kosong, membuat beberapa warga bahagia melihat pawainya, dan terimakasih juga telah membuat saya punya sesuatu untuk di posting. Hahahaha
Terakhir, pesan saya, ingatlah menang kalah itu biasa dalam pertandingan. Jangan anarkis jika kalah, jangan anarkis juga jika menang. Tunjukan bahwa kalian dapat menjadi supporter sejati, yang setia memberikan dukungan pada tim kesayangan, bukan memberikan kerusuhan dan mecoreng nama baik tim maung. Sok lah sing menang maungnya biar warga Bandung tambah bahagia !
Situs Ajaib
Tiap liburan akhir smester, mahasiswa ITB pasti buka situs yang sama
Tapi tiap orang isinya beda-beda
Setelah membuka, ekspresinya beda-beda juga :
Ada yang bahagia, tersenyum, bersyukur, jingkrak-jingkrak, jungkir balik, menangis histeris, berlinang air mata bisa karena terharu, bahagia, atau sedih, muka kecewa, poker face juga bisa, marah, kesel, pengen bunuh diri juga kayanya ada, peluk mamah, nyeburin diri, ga bisa tidur, atau justru tidur berjam-jam melebihi jam tidur normal, atau bahkan mukanya biasa aja, atau bingung karena nilainya ajaib : turun dari langit, atau turunnya terlalu dalam dan menyakitkan, atau malah merah semua gara-gara belum isi kuisioner.
Situs ajaib berhasil menggonjang-ganjing perasaan pengunjungnya.
Seketika jaringan sosial ramai update-an
Tradisi mahasiswa ITB, menunggu situs ajaib, setelah keluar, semua tersadar liburan telah usai, dengan berbagai ekspresi.
Apa pun hasilnya, bersyukurlah.
Sesuai harapan… Alhamdulillah, lanjutkan !
Melebihi harapan… Alhamdulillah, jangan sombong, harus bantu temen-temen !
Tidak sesuai harapan… Alhamdulillah sudah diingatkan,pasti ada sesuatu yang salah, perbaiki, berjuang, FIGHTING, harus lebih semangat lagi ! :)
Selamat datang smester baru.
Pah....?
- mama : pah teteh mau ngomong
- anak : pah..
- papah : masih tingkat 2 teh, masa udah mau nikah !?
- anak : ....... (*bukan ituuuuu -,-'' )
- anak : (jadi terinspirasi hahaha)
dari lahirbahkan sejak dalam kandungan hanya diberi, sampai kapan kita akan diberi oleh orangtua? lalu apa yang SUDAH kita berikan untuk mereka hingga saat ini?
Indonesia, Negeriku…
Kemarin sore, ibu bercerita bagaimana negeri ini
negeri yang sangat dicintai
Indonesia..
Ibu mengatakan,
“Indonesia adalah negeri yang penuh dengan orang-orang yang siap menyerang siapapun yang berani merebut kemerdekaan bangsa”
“Indonesia adalah negeri yang penuh dengan teriakan ‘Allahu Akbar!!’ dan teriakan ‘merdeka!!’ saat kemerdekaan diperjuangkan hingga titik darah penghabisan”
“Indonesia adalah negeri yang penuh dengan senyum ramah pribuminya”
“Indonesia adalah negeri yang penuh dengan hamparan hijau dedaunan bagaikan zamrud di katulistiwa”
Aku terdiam… Apa ibu sedang berbohong ?
Aku lihat dari layar kaca
“Indonesia adalah negeri yang penuh dengan orang-orang yang menyerang saudaranya sendiri”
“Indonesia adalah negeri yang penuh dengan teriakan ketakutan ibu-ibu dan anak kecil saat bom meledak dimana-mana padahal indonesia TIDAK SEDANG DIJAJAH”
“Indonesia adalah neger yang penuh dengan tangisan dan senyum kecut pribuminya”
“Indonesia adalah hamparan mayat yang menunggu untuk dikubur secara masal”
Setahu aku, ibu tidak pernah berbohong.
Mengapa kali ini apa yang beliau ceritakan sangat berbeda dengan apa yang aku lihat ?
Ibu tidak berbohong
Oh, mungkin… layar kaca yang berbohong
atau mungkin saja mataku yang masih muda ini sudah terlalu tua hingga tak adapa melihat dengan jelas
Aku berharap, anakku nanti akan melihat negeri ini seperti apa yang ibuku ceritakan
Kalimat sakti dari dosen buat mahasiswanya yang telat… (hayo ngaku siapa yang pernah dikasih kalimat sakti kayak gitu?)
hanya dosen mekflu, penguasa dari pengendalian fluida, yang bisa menghentikannya



